Translate

16.7.09

Hantu ke-13 Part II : The Glass House

Tamu misterius itu seorang pria berumur sekitar 30 tahunan. Ia memakai setelan jas hitam pekat sepadan dengan warna tas kopornya yang bermodel slim.
“Excuse me, saya ingin bertemu dengan Tn. George Lazarus, apa benar ini apartemennya nona ?” pria itu mencoba tersenyum ramah
“Tentu saja, tunggu sebentar” anabel mencoba membalas senyum pria itu tapi dengan ekor mata menggoda.
“Ayah, seseorang ingin bertemu denganmu “
“Persilahkan ia masuk”
“Silahkan..”

Tamu itupun masuk melihat sekeliling apartemen sederhana itu. Tampak hanya ada ruang tamu yang digunakan sebagai ruang makan juga.
“Silahkan duduk sir, bisa saya bantu ?”
“Yes, anda pasti Tn. George.”
George mengangguk tanda setuju.
“Saya Robert Carr, pengacara paman anda”
“Seperti yang anda ketahui beberapa waktu yang lalu paman anda Barbados meninggal dunia dalam suatu kecelakaan misterius…”
“Mmh..iya betul setahun yang lalu kalau tidak salah”
“Anda benar Tn. George” pria itu menghela nafas sebentar
Pengacara itu lalu membuka tas kopor slimnya di atas meja makan lalu mengeluarkan beberapa dokumen. Tn. George dan semua orang yang ada di ruang itu saling berpandangan.
Lalu pengacara itu melanjutkan kalimatnya
“Sir, saya to the point saja. Anda tahu kalau paman anda selama ini tidak memiliki istri ataupun keturunan, jadi otomatis andalah satu-satunya yang ditunjuk sebagai pewaris harta paman anda”
“Maksud anda ?”
“Ya, anda diberikan warisan oleh paman anda sebuah rumah yang cukup representatives di sebuah pinggiran kota, sangat bagus menurut saya daripada hunian yang anda miliki sekarang” kata pengacara itu menambahkan dengan angkuh sambil memandang remeh apartemen yang sedang ditempati oleh george dan keluarganya.
George terdiam tak menyangka pamannya akan mewariskan sebuah rumah untuknya.
“Jika anda setuju, saat ini juga saya akan mengantarkan anda ke tempat itu dan membereskan beberapa dokumen penting” celoteh pengacara itu lagi.
George menatap kedua anaknya sebentar “Baik, beri waktu saya sebentar untuk membicarakan ini dengan keluarga saya”
“No problem, Tn. George saya akan menunggu” sahut pengacara itu dengan congkaknya.
Sepeninggal pengacara itu, george menanyakan pendapat anak-anaknya dan mereka setuju untuk pindah. Merekapun berkemas membawa yang seperlunya saja sesuai dengan permintaan pengacara itu. Setelah siap, Tn. George menghampiri pengacara itu. Mengangguk tanda setuju.
“Okey. Ayo kita berangkat.” sahut pengacara itu dengan tersenyum samar.

Beberapa jam kemudian

“Kapan kita tiba, Dad !” ronny mulai merengek dikursi belakang
“Sabar nak”
“Iya sedikit lagi kita akan tiba buddy !” pengacara itu mencoba bersahabat dengan ronny tapi tatapan matanya mengarah ke anabel yang duduk di jok belakang lewat kaca spion mobil.
“Yes, itu dia” kata pengacara itu
“Shit ! gerimis…”
Di depannya tampak sebuah rumah sangat besar yang agak terpencil…
Hari sudah hampir gelap, dan sedikit hujan. Setelah benar-benar tiba, nampak rumah itu sangat besar tetapi gelap. Robert pengacara itu mencoba menyalakan sakering rumah itu, tapi tampaknya ngadat. Ia mencoba lagi.
George, anak-anak dan rowan pembantunya mulai gelisah mana hujan gerimis lagi.
Tak lama muncul dua orang asing memakai mantel hujan, seorang pria dan temannya seorang wanita.
“Halo, kami mendapat laporan jika di alamat ini aliran listriknya sedang bermasalah” kata pria asing itu.
Pengacara itu berbalik menunjukkan rasa tidak senangnya “Oh yah …?”
“Kami akan mencoba memeriksanya” pria asing itu memberi kode kepada teman wanitanya untuk mengecek sakeringnya.
“Baik, mohon ditunggu sebentar”
Tak lama kemudian sakeringnya berhasil diperbaiki. Rumah itu terang benderang !
Semua yang ada disana terpana begitu lampu menyala, nampak di hadapan mereka sebuah yang rumah sangat megah dengan dinding bahkan lantai rumah itu terbuat dari kaca !
“Wow”
“Awesome !”
“Dad, apakah aku bermimpi ?” kagum ronny dengan menenteng papan skateboardnya
George tidak menjawab pertanyaan anaknya, ia hanya terperangah melihat pintu rumah yang terbuat dari kaca itu terbuka dengan sendirinya begitu lampu menyala.
“Mari masuk” sahut Robert dengan senyum congkaknya.

Kedua orang asing yang mengaku dari pegawai instalasi listrikpun ikut masuk. Mereka sibuk melihat dinding-dinding dan lantai kaca itu…
“Mmm…ada yang tidak beres” sahut pria asing itu
“Iya, lihat dinding ini..dinding ini penuh mantra..dan hey ! di lantainya juga…”
“ aku juga telah melihatnya tadi tapi mengapa mantra dinding dan lantai ini berlapis yah ..“ pria asing itu masih bingung tapi ia mencoba mengalihkan perhatian dan mengarah ke tempat pengacara dan george berada.


Di ruang kerja

George, anak-anak, rowan, Robert dan kedua orang asing tadi berkumpul di ruang ini.
“Dad, dapatkah aku berkeliling ? please dad…”
“ Ya, ayah tempat ini mengagumkan “ anabel menimpali
“Ya..yah baiklah tapi rowan kau harus mengawasi mereka berdua” tatap george dengan tegas…
“Okey sir, aku tak sabar juga ingin melihat-lihat tempat ini”
“Oh ya, anak-anak jangan sampai memecahkan atau merusak sesuatu yah…”
“Right dad !” seru ronny.
“Baik Robert, bagaimana ?”
“Anda sisa menandatangani dokumen-dokumen ini dan semuanya beres, sir !”
“Baik”
Georgepun menandatangani dokumen-dokumen itu.
“Tunggu dulu !” pria asing itu memotong
“Ada apa ?”
“Kau harus segera kaluar dari rumah ini, sir…..”
“George” potongnya. “Memang ada apa ?”

Di ruang yang lain

Rowan, ronny dan anabel berkeliling rumah.
“Rumah ini benar-benar mengagumkan !”
“Ya rowan aku senang ayah akhirnya mau pindah ke tempat ini “ sahutnya tersenyum sambil meraih sebuah pedang kuno yang terletak di atas meja kaca.
“Don’t try it, ronny” rowan mencoba menghalangi ronny untuk meraih pedang kuno itu.
“Okey…okey”
Merekapun pindah ke ruang sebelahnya, sebuah ruang yang berada di bagian tengah rumah dengan lingkaran metal di lantai bagian tengahnya dengan tulisan-tulisan yang asing
“wah apa ini rowan, tulisan apa ini ?”
“I don’t know….jangan coba-coba untuk menyentuhnya ron !”
“Kalau kaca mata ini rowan ?”
“Kalau itu boleh, hey kaca mata itu keren sekali seperti kaca mata pembalap !” rowanpun mengambil kaca mata yang tersedia di ruangan itu. Sebuah kaca mata bening dengan model futuristic.

Di ruang kerja

“Yah memangnya ada apa” sahut pengacara itu terheran-heran.
Pria asing itu menghela nafas “ Pokoknya berbahaya sir, anda dan keluarga anda harus segera keluar dari rumah ini” pria asing itu menatap serius
“Ada-ada saja” pengacara itu mendengus lalu meninggalkan ruangan tengah itu sambil membawa kopor slimnya juga.
George juga ingin segera meninggalkan ruangan itu, tapi di halangi oleh pria asing itu. Pria itu memegang tangan george dan….arrrrrrrrgh kepala pria asing itu kesakitan seperti di tusuk-tusuk …ia melihat kilatan hidup george yang menyedihkan.
“No…no…not you !” tatapnya tak percaya
“Ada apa….”
“Dengarkan aku george, kami berdua adalah seorang cenayang”
“Namaku jake dan dia may”
“Empat tahun yang lalu aku dipekerjakan oleh pamanmu sebagai pemburu hantu, pamanmu terobesi ingin menciptakan sebuah mesin yang dijalankan oleh hantu !”
“What !!!” george tak percaya
“Yah itu betul” jake menoleh ke may dan may mengangguk tanda setuju.
“Tunggu, aku harus mencari anakku dulu !!” tiba-tiba george tersadar


Robert Sang Pengacara


Pengacara itu meninggalkan ruangan tengah menuju ruang bawah tanah, di salah satu ruang ia menemukan sebuah kaca mata bening dengan model futuristic, tampaknya keren jika di gunakan. Ia memakainya.
Ia menuruni tangga darurat menuju ke ruang bawah tanah itu sambil mengumpat.
“Who cares, yang penting aku sudah mendapat bagian dari Tn. Barbados ucapnya dengan senyuman penuh arti.”
Matanya memandang ke dalam salah satu bilik kaca di ruang bawah tanah itu, ….seorang pria terkurung berwajah pucat dalam bilik itu menatapnya sinis…...robert hanya menatap saja lalu berjalan terus sambil menganggap itu hanya hayalannya saja. Pria dalam bilik itu menoleh tampak wajah sebelahnya yang sangat mengerikan tercabik-cabik penuh darah.
Robert terus berjalan sampai akhirnya ia berada di ujung gang ruang bawah tanah. Ia membuka bilik itu, melihat sebuah tas kecil di atas sebuah tuas. Ia tersenyum penuh arti.
Diambilnya tas itu, tiba-tiba tuas itu bergerak turun ! rumahnya bergerak !
Robert mendengar beberapa pintu terbuka dan tertutup secara otomatis di ruang bawah tanah itu.
Beberapa menit kemudian ia kaget tiba-tiba di depannya muncul seorang anak kecil berwajah pucat dengan bersimbah darah di kepalanya dan ……….


Bersambung...
Next Chapter : Teror in the glass house

Tidak ada komentar: