Translate

17.7.09

11 Portrait Part I : Smiling face

Institute Kesenian Palu, Kelas Seni Photography
01.59 pm

“Pola cahaya direfleksikan oleh object yang bergerak dari sensor eletronik selama dilakukan pemotretan terhadap suatu … …”
“Kriiiiiiiiiiiiiiiing!!!”

Suara bel berbunyi menggema di sepanjang koridor gedung kampus menandakan waktu telah berlalu selama dua jam tak terkecuali untuk kelas photography.

“Okey, bahan saya hanya sampai disini apakah ada yang ingin ditanyakan” pandangan dosen itu menyisir setiap mahasiswanya. Semuanya tak bergeming.
“Baik, kita bertemu minngu depan” dosen itupun merapikan diktatnya di meja dan meninggalkan kelas itu.
“Yah..pak aku ingin bertanya apa bisa aku dapat nilai A di kelas bapak ” celutuk seorang mahasiswa setelah dosen itu pergi
“Ah, kamu ton bisanya main belakang saja” potong temannya yang lain.
“Hahaha…huuu…” riuh kelas yang hanya berjumlah nyaris orang itu

Seorang dari mahasiswa itu berjalan keluar meninggalkan kelas yang semakin riuh saja. Mahasiswa itu berjalan malas di koridor gedung menuju akademik institute untuk mengecek apakah ada pengumuman penerimaan beasiswa lagi. Tempat itu berada di lantai basement, cukup jauh dari kelasnya yang sekarang berada di lantai 3 .

“Dhar !” tiba-tiba temannya mengagetkannya
“Gila kamu chank aku hampir kena kram jantung nih !”
“Situ lee kram jantung …keren dikit ke’ kram otak bro ” goda temannya
“Eh mo kemana nih gak ngajak-ngajak” tambahnya
“Biaasa mo lihat papan pengumuman kali-kali aja ada penerimaan beasiswa lagi khan lumayan bisa menutupi kefakiranku nih !”
“Ah dasar manusia menyedihkan, oh iya tadi aku abis dari sana juga ada trus ada pamflet pameran photography di gedung cendrawasih, aku cuman lihat sekilas sih soalnya pak hermawan sudah beranjak naik tangga tadi, bisa gawat kalau telat bisa kena coret lagi namaku “
Kedua mata randy tiba-tiba berbinar-binar seakan-akan ada lampu Philips 25 watt muncul dari dalam matanya…
“Serius chank ?”
“Ya iyalah bro”
Mereka berduapun bergegas menuju papan pengumuman di akademik. Tempat itu ramai sekali seakan-akan tak habis-habisnya manusia mondar-mandir disana.
Ruang akademik ini tempatnya agak terpisah dari jurusan yang terletak di lantai basement, ruang itu hanya terpisah oleh lingkaran pilar-pilar di sekitar tangga turun.
“Randy, itu dia !” teriak sahabatnya iksan sambil menunjuk pamflet berwarna biru yang terpasang dipapan pengumuman.

Mata randy tertumbuk pada pengelenggara pameran itu, Restu Arkam. Randy sangat memuja photographer satu ini. Restu Arkam adalah salah satu photographer terkenal di Indonesia Umurnya sekitar 21 tahun saat ia membuat karya fenomenalnya “Smiling Face”. Tidak dapat dipungkiri karya itu mendapat pujian dari para kritisi seni photography di Indonesia

“mmh…acaranya lusa chank kau ingin ikut ?”
“.Sip”

Dua hari kemuadian

Udara di kota palu sangat menyengat apalagi saat arah jarum jam menunjukkan pukul 12.00 tepat. Nampak dari arah timur gedung seseorang berumur sekitar 20 tahunan berperawakan tinggi membawa sebuah tas ransel sedang tergesa-gesa berjalan menuju hall gedung cendrawasih. Dari pelipis kepalanya menetes bulir-bulir keringat, ia tetap tak perduli tetap berjalan lurus menuju hall yang ada di depannya.

Dialah randy, mahasiswa tingkat awal Institute Kesenian Palu mengambil jurusan photography yang sejak SMU sudah diimpikannya. Ia ingin menjadi photographer handal, memiliki gallery yang dikelolanya sendiri. Hal itu bukan sekedar impian tapi ia memiliki bakat alami dalam bidang photography. Baginya hidup adalah suatu mozaik gambar yang abstrak, tinggal bagaimana gambar yang abstrak itu dirangkai menjadi sesuatu hal yang indah.

“Uh !” tiba-tiba ia menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah darinya
Seorang pria tua nyaris terjatuh di depannya
“Anak muda pelan sedikit jika berjalan…..uuuh mana tongkatku”
“Maafkan aku pak …aku tak sengaja tadi…” randy tak melanjutkan kata-katanya, ia terdiam menatap orang tua itu.
“Bapak Restu Arkam ??” sambungnya sambil membantu orang tua itu berdiri seimbang dengan tongkatnya
“Huk …uhuk..uhuk …”
Randy mengacungkan tanganya untuk berjabat tangan, orang tua itu hanya memandang datar kepada randy
“Randy pak,”
Tangannya disambut oleh pria tua itu.
“Saya sangat mengagumi bapak. Yah memang saya belum pernah melihat karya bapak secara langsung , Selama ini hanya via internet dan majalah-majalah photography tapi itu sudah cukup mewakili pak !” serunya dengan perasaan riang
“Well, anak muda ….”
‘Maaf pak arkam, anda harus segera lobby..” seorang wanita tua memotong pembicaraan mereka
Tanpa permisi bapak tua itupun meninggalkannya di depan pintu gedung sambil tergopoh-gopoh.

Sepeninggal kejadian tadi, randy melanjutkan berjalan menuju pelataran gedung itu tampak sudah banyak orang hadir melihat pameran karya restu arkam. Ia mencoba ke sudut pintu menunggu temannya iksan datang. Nyaris 10 menit lamanya ia berdiri disudut pintu temannya tak kunjung datang juga, akhirnya ia berinisiatif masuk ke dalam venue.
Pada saat masuk tatapannya tertuju pada salah satu bingkai yang sangat besar di ruangan itu…. ia tersihir...

Ia berjalan mendekati potret itu, matanya tak berkedip melihat potret hitam putih itu. Potret itu seperti hidup, seperti menelanjangi dirinya yang sekarang terpaku di depan, ia merasa seperti hanya dirinya dan potret itu semua orang yang hadir ditempat itu seakan-akan lenyap. Hening. Sebuah potret seorang ayah dan anak dengan latar belakang rumah tua . Ayah dan anak itu tesenyum samar. Dibawah bingkai potret itu tertulis dengan huruf cetak tebal “SMILING FACE”

Bersambung......

Written & Inspired by : Blog Author

***************************

Karya fiksi pertamaku...huu semoga hasilnya gak memalukan :) ...selamat menikmati :)

Tidak ada komentar: